Sinopsis

Kawruh Jiwa: Wejanganipun Ki Ageng Suryomentaram Jilid 2. Buku Kawruh Jiwa: Wejanganipun Ki Ageng Suryomentaram, Jilid 2 melanjutkan ajaran filsafat Jawa tentang olah rasa, dengan fokus pada praktik hidup sehari-hari, hubungan sosial, dan cara manusia mengelola kebutuhan serta cita-cita agar tetap selaras dengan ketenteraman batin. Isi Pokok Jilid 2 Latar & Konteks Jilid kedua ini masih merupakan bagian dari rangkaian ajaran Kawruh Jiwa yang disusun Ki Ageng Suryomentaram. Berbeda dengan jilid pertama yang lebih menekankan dasar-dasar “raos sami” dan “raos langgeng”, jilid kedua lebih banyak membahas aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari. Tema Utama Pengelolaan kebutuhan hidup (butuh, gegayuhan, pangupajiwa): manusia selalu berhadapan dengan kebutuhan jasmani dan rohani. Suryomentaram menekankan bahwa kebutuhan ini harus dipenuhi dengan kesadaran, bukan sekadar nafsu. Hubungan keluarga dan masyarakat: terdapat wejangan tentang bagaimana seseorang berinteraksi dengan pasangan (bojo), keluarga (bebrayatan), dan masyarakat luas. Kesadaran terhadap cita-cita dan penderitaan: ajaran ini menekankan bahwa cita-cita (gegayuhan) dan penderitaan (susah, cilaka) adalah bagian alami dari hidup, yang harus diterima dengan sikap eling (sadar) dan nrimo (menerima). Kebahagiaan sejati: bukan berasal dari kedudukan atau harta, melainkan dari kemampuan mengolah rasa sehingga tidak terikat pada hal-hal eksternal. Struktur Isi (berdasarkan katalog dan cuplikan teks) Bab tentang butuhing cekap (kebutuhan secukupnya) Bab tentang gegayuhaning gesang (cita-cita hidup) Bab tentang pangupajiwa (usaha mencari nafkah) Bab tentang bebrayatan (hidup berkeluarga) Bab tentang cilaka lan susah (penderitaan dan kesulitan) Bab tentang kramadangsa (ego atau keakuan manusia) Semua bab ini diarahkan untuk menunjukkan bahwa kesadaran jiwa adalah kunci agar manusia tidak terjebak dalam penderitaan batin. Nilai Filosofis Humanistik dan eksistensial: ajaran ini tidak abstrak, melainkan berangkat dari pengalaman konkret manusia sehari-hari. Kesetaraan rasa: menekankan bahwa semua orang, kaya atau miskin, memiliki perasaan dan kebutuhan yang sama. Psikologi budaya Jawa: Jilid 2 memperlihatkan bagaimana konsep kawruh jiwa bisa dipakai sebagai dasar konseling, pendidikan karakter, dan pengembangan diri. Signifikansi Jilid 2 memperdalam ajaran Suryomentaram dengan kerangka praktis yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, dan masyarakat. Menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian psikologi eksistensial Jawa dan pendidikan karakter berbasis budaya lokal.


Related Sources in Our Collections

----

UGM Research Collections Link

----

Perhatian: Dokumen yang berukuran besar mungkin akan muncul lebih lama.