Sinopsis

Bengkulu dan Banda Neira : untuk melestaraikan keping-keping sejarah. Buku Bengkulu dan Banda Neira berisi kumpulan kliping dan dokumentasi mengenai masa pembuangan Ir. Soekarno di Bengkulu dan Banda Neira, yang menyoroti sisi biografis, politik, serta kehidupan sosial sang proklamator selama periode pengasingan. Latar Penerbitan Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Idayu (1985) sebagai dokumentasi sejarah perjuangan bangsa. Bentuknya berupa kliping, catatan, dan arsip yang menghimpun berita, tulisan, serta kesaksian tentang masa pengasingan Ir. Soekarno di Bengkulu dan Banda Neira. Tujuan utamanya adalah melestarikan fragmen sejarah yang sering tercecer, agar generasi berikutnya dapat melihat konteks perjuangan dari sudut pandang lokal. Isi Pokok Banda Neira (1934–1938) Soekarno diasingkan bersama tokoh pergerakan lain: Hatta, Sutan Sjahrir, dan Cipto Mangunkusumo. Buku menyoroti interaksi intelektual mereka, yang menjadikan Banda Neira semacam “laboratorium politik” kecil. Kehidupan sehari-hari: keterbatasan fasilitas, namun tetap produktif dalam berdiskusi, menulis, dan membangun gagasan kebangsaan. Bengkulu (1938–1942) Soekarno lebih dekat dengan masyarakat, aktif dalam kegiatan Muhammadiyah dan pendidikan. Perannya dalam pembangunan Masjid Jamik Bengkulu dicatat sebagai simbol keterlibatan sosial. Pertemuan dengan Fatmawati, yang kelak menjadi Ibu Negara, menjadi bagian penting narasi. Buku menekankan bagaimana Soekarno tetap berjuang meski dalam pengasingan, dengan cara membangun jaringan sosial dan budaya. Keping-Keping Sejarah Arsip dan kliping yang dikumpulkan memperlihatkan potret manusiawi Soekarno: pemimpin yang berinteraksi dengan rakyat, bukan hanya tokoh politik besar. Menunjukkan bagaimana daerah-daerah “pinggiran” seperti Bengkulu dan Banda Neira berperan dalam membentuk sejarah nasional. Buku ini berfungsi sebagai penjaga memori kolektif, agar detail-detail kecil tidak hilang dari narasi besar perjuangan kemerdekaan. Signifikansi Buku ini bukan sekadar biografi, melainkan arsip sejarah yang hidup, menyatukan potongan-potongan kecil dari masa pengasingan. Ia memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya terjadi di pusat kekuasaan, tetapi juga di daerah-daerah yang menjadi ruang pembentukan gagasan. Dengan melestarikan keping-keping sejarah, buku ini mengajarkan pentingnya melihat sejarah dari bawah, dari pengalaman lokal dan keseharian. Kesimpulan Bengkulu dan Banda Neira adalah upaya dokumentasi yang menegaskan bahwa fragmen kecil sejarah memiliki nilai besar. Ia melestarikan memori tentang masa pengasingan Soekarno, memperlihatkan interaksi sosial, politik, dan budaya yang membentuk kepemimpinan nasional.


Related Sources in Our Collections

----

UGM Research Collections Link

----

Perhatian: Dokumen yang berukuran besar mungkin akan muncul lebih lama.