Sinopsis
Seri III Wejangan Pokok Ilmu Bahagia. Ringkasnya: Seri III Wejangan Pokok Ilmu Bahagia karya Ki Ageng Suryomentaram adalah bagian dari kumpulan ajaran filsafat hidup yang menekankan pemahaman diri, kesadaran batin, dan cara mencapai kebahagiaan sejati. Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Idayu pada 1975 (edisi lain 1981), berisi wejangan singkat (33 halaman) yang merangkum inti ajaran kawruh beja atau ilmu bahagia. Latar Belakang Pengarang: Ki Ageng Suryomentaram (1892–1962), putra Sultan Hamengkubuwono VII yang memilih hidup sebagai guru rakyat. Konteks: Ajaran ini lahir dari pengalaman hidup Suryomentaram yang berkelana, berdialog dengan masyarakat, dan merumuskan filsafat praktis tentang kebahagiaan. Seri: Buku ini merupakan bagian dari seri wejangan tentang ilmu bahagia, yang sebelumnya sudah diterbitkan dalam Seri I dan II. Pokok Isi Kebahagiaan sebagai ilmu: Bahagia bukan sekadar perasaan, melainkan hasil dari pemahaman diri dan kesadaran batin. Menolak pandangan bahwa kebahagiaan bergantung pada harta atau kedudukan. Kesadaran diri (ngerti awak): Inti ajaran adalah mengenali diri sendiri, termasuk keinginan, rasa, dan pikiran. Dengan mengenali diri, manusia bisa mengendalikan nafsu dan mengurangi penderitaan. Sikap terhadap dunia: Tidak ada sesuatu di dunia yang pantas dikejar mati-matian atau dihindari secara berlebihan. Kebahagiaan muncul dari sikap nrimo (menerima) dan legawa (lapang hati). Relasi sosial: Bahagia juga berarti hidup selaras dengan orang lain, tanpa iri, dengki, atau ambisi berlebihan. Menekankan pentingnya tepa selira (empati) dan rasa kemanusiaan. Signifikansi Filsafat Jawa modern: Menyatukan tradisi Jawa dengan refleksi eksistensial yang relevan hingga kini. Psikologi praktis: Ajaran ini sering dianggap sebagai bentuk psikologi rakyat, karena menekankan introspeksi dan keseimbangan batin. Historiografi: Menjadi sumber penting untuk memahami cara berpikir masyarakat Jawa tentang kebahagiaan dan kehidupan. Kesimpulan Buku Seri III Wejangan Pokok Ilmu Bahagia adalah panduan singkat namun mendalam tentang filsafat kebahagiaan ala Ki Ageng Suryomentaram, yang menekankan kesadaran diri, penerimaan hidup, dan harmoni sosial. Meski ringkas, ia menjadi bagian penting dari tradisi pemikiran Jawa yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari dalam diri, bukan dari pencapaian luar.
Related Sources in Our Collections
----
UGM Research Collections Link
----