Sinopsis

De Annexatie der Redjang. Eeene vredelievende militaire expeditie. 1860. Buku De Annexatie der Redjang. Eene vredelievende militaire expeditie 1860 adalah laporan kolonial Belanda mengenai ekspedisi militer ke wilayah Rejang (Bengkulu, Sumatra bagian barat daya) pada tahun 1860, yang digambarkan secara retoris sebagai “ekspedisi damai” meskipun pada hakikatnya merupakan operasi militer untuk menundukkan dan mengintegrasikan wilayah tersebut ke dalam kekuasaan Hindia Belanda. Isi Pokok Buku Konteks sejarah Rejang adalah salah satu wilayah adat di Bengkulu yang memiliki struktur politik dan hukum adat sendiri. Pada pertengahan abad ke-19, Belanda berusaha memperluas kontrol administratif dan ekonomi di Sumatra bagian barat daya. Tahun 1860, dilakukan ekspedisi militer yang disebut “vredelievende” (damai), istilah kolonial yang berfungsi menutupi sifat koersif dari operasi tersebut. Isi laporan Kronologi ekspedisi: perjalanan pasukan Belanda ke wilayah Rejang, pertemuan dengan pemimpin lokal, serta proses penaklukan. Deskripsi wilayah: kondisi geografis Bengkulu dan daerah Rejang, termasuk desa, hutan, dan jalur komunikasi. Interaksi dengan masyarakat lokal: bagaimana Belanda menggambarkan negosiasi, penyerahan, atau perlawanan masyarakat Rejang. Politik kolonial: penjelasan tentang alasan “annexatie” (penggabungan), yakni untuk menegakkan ketertiban, membuka akses ekonomi, dan memperluas administrasi kolonial. Narasi legitimasi: teks menekankan bahwa ekspedisi dilakukan dengan “damai,” meskipun sebenarnya ada unsur paksaan militer. Karakter teks Ditulis dengan gaya laporan resmi kolonial, penuh detail kronologis dan administratif. Perspektifnya sepenuhnya kolonial: menggambarkan ekspedisi sebagai tindakan “beradab” untuk membawa ketertiban, bukan sebagai agresi. Signifikansi Sejarah kolonial Sumatra: Buku ini adalah sumber primer tentang bagaimana Belanda menguasai Bengkulu dan wilayah adat Rejang. Militer dan politik kolonial: Memberikan gambaran tentang strategi Belanda dalam menggabungkan operasi militer dengan narasi “damai” untuk legitimasi. Historiografi kolonial: Menunjukkan bagaimana kolonialisme membingkai penaklukan sebagai “annexatie” yang sah dan beradab.


Related Sources in Our Collections

----

UGM Research Collections Link

----

Perhatian: Dokumen yang berukuran besar mungkin akan muncul lebih lama.