Sinopsis
Bab Panulakipun Babaya Wuta Utawi Sasakit Mripat Panupa Malih (Bab : Griya Pamulangan Murid Wuta Ing Nagari Bandhung. 1913. Ringkasannya: Buku Bab Panulakipun Babaya Wuta Utawi Sasakit Mripat Panupa Malih (1913) adalah teks beraksara Jawa yang membahas pencegahan kebutaan dan penyakit mata, sekaligus mendokumentasikan keberadaan sekolah khusus murid tunanetra di Bandung pada masa kolonial. Isi Pokok Buku Tema utama: Pencegahan kebutaan (bab panulakipun babaya wuta) dan penanganan penyakit mata (sasakit mripat). Konteks sosial: Buku ini ditulis oleh Mas Sarban dan diterbitkan oleh Pirmah Papyurs di Bandung pada tahun 1913. Tujuan: Memberikan pengetahuan dasar tentang kesehatan mata kepada masyarakat Jawa, sekaligus memperkenalkan lembaga pendidikan bagi anak-anak tunanetra. Bab khusus: Griya Pamulangan Murid Wuta Ing Nagari Bandhung — membahas sekolah untuk murid tunanetra di Bandung, yang menjadi salah satu institusi awal pendidikan inklusif di Hindia Belanda. Struktur dan Isi Pencegahan kebutaan Menjelaskan faktor penyebab kebutaan (infeksi, cedera, penyakit bawaan). Memberikan anjuran menjaga kebersihan mata, menghindari debu, serta pentingnya pemeriksaan dini. Penyakit mata umum Katarak, trakoma, dan infeksi lain yang banyak terjadi di Jawa pada awal abad ke-20. Penjelasan sederhana tentang gejala dan cara penanganan tradisional maupun medis. Sekolah murid tunanetra di Bandung Menggambarkan kurikulum dan metode pengajaran bagi anak-anak tunanetra. Menekankan pentingnya pendidikan keterampilan praktis agar mereka bisa mandiri. Menjadi bukti awal adanya perhatian kolonial terhadap pendidikan inklusif. Pesan moral dan sosial Menekankan bahwa tunanetra tetap memiliki hak untuk belajar dan berkontribusi. Mengajak masyarakat untuk tidak memandang sebelah mata penyandang disabilitas. Signifikansi Historiografis Dokumentasi kolonial: Buku ini adalah salah satu sumber langka yang menunjukkan bagaimana isu kesehatan mata dan pendidikan tunanetra dipandang dalam konteks kolonial Hindia Belanda. Bahasa Jawa: Ditulis dalam aksara Jawa, menandakan upaya penyebaran pengetahuan medis ke masyarakat lokal. Perpaduan medis dan sosial: Menggabungkan edukasi kesehatan dengan advokasi sosial untuk kelompok rentan.
Related Sources in Our Collections
----
UGM Research Collections Link
----